Selasa, 08 Januari 2013

Siswa SMA Dikelompokkan Sesuai Minat, Bukan Jurusan

JAMBI, KOMPAS.com - Keputusan pelaksanaan Kurikulum 2013 sudah final. Pada tahun pertama, kurikulum baru hanya diberlakukan di 30 persen sekolah dasar/MI kelas I dan IV di setiap kabupaten/kota di semua provinsi.

”Adapun untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK akan diberlakukan di kelas VII dan X di semua sekolah tanpa kecuali,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Minggu (6/1) malam, di Jambi.

”Pertimbangannya 30 persen saja agar proporsional dan tidak menumpuk di perkotaan. Kita juga realistis karena jumlah SD/ MI sekitar 170.000,” ujar Nuh.

Tim penyusun kurikulum internal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta para narasumber juga memutuskan penyampaian materi pembelajaran tetap sesuai dengan rencana awal, yakni dengan tematik integratif. Khusus mata pelajaran sains, belum diputuskan apakah akan mulai diberikan di kelas IV, V, dan VI atau kelas V dan VI saja. Keputusan finalnya akan diserahkan kepada Komite Pendidikan yang dipimpin wakil presiden.

Peraturan pemerintah

Untuk mengantisipasi agar kurikulum tidak berganti setiap kali berganti menteri, pemerintah memiliki tiga skenario. Skenario pertama, kurikulum akan ”diamankan” dengan payung hukum peraturan pemerintah.

”Biasanya kurikulum diatur dengan peraturan menteri sehingga ada istilah ganti menteri ganti kurikulum. Dengan PP, diharapkan (kurikulum) tidak serta-merta bisa diubah,” kata Nuh.

Skenario kedua, lanjut Nuh, kurikulum diamankan melalui pelaksanaan yang bertahap dimulai dari kelas I, IV, VII, dan X. Lalu tahun kedua kurikulum baru diberlakukan di kelas II, V, VIII, dan XI. Begitu seterusnya. Adapun skenario ketiga diharapkan dari masyarakat. Kurikulum akan mampu bertahan jika masyarakat punya rasa memiliki.

Di dalam kurikulum yang baru juga ditetapkan tidak ada lagi penjurusan di tingkat SMA/MA.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad menjelaskan, siswa dikelompokkan bukan lagi berdasarkan jurusan, melainkan minat IPA, IPS, atau Bahasa. Dengan peminatan ini, siswa tidak lagi harus mengambil satu bidang tertentu, tetapi bisa mengambil lintas bidang.

”Misalnya, anak yang minat IPA nanti bisa ambil mata pelajaran IPS atau Bahasa. Begitu pula sebaliknya. Seperti sistem kredit semester di perguruan tinggi,” kata Hamid.

Nuh kembali menegaskan, bahasa daerah tetap diajarkan di sekolah. Adapun alokasinya waktunya diserahkan ke setiap sekolah karena Kurikulum 2013 merupakan kurikulum minimal yang butuh pengayaan dari setiap sekolah. (LUK)
 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik

Selengkapnya >>>

Senin, 17 Desember 2012

Jangan Hanya Meniru Pendidikan Luar Negeri...

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, pemerintah selalu menggaungkan untuk meningkatkan daya saing anak bangsa melalui pendidikan agar siap menghadapi tantangan globalisasi. Lantaran hal tersebut, pemerintah kerap menjadikan pendidikan di luar negeri sebagai acuan untuk memperbaiki pendidikan di tanah air.

Praktisi pendidikan dari Universitas Paramadina, Abduh Zein, mengatakan bahwa perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia bukan hanya sebatas untuk bersaing saja. Pasalnya, tantangan globalisasi sesungguhnya bukan semata-mata untuk persaingan.

"Sekarang selalu disebut untuk meningkatkan daya saing. Jangan berpikir mau bersaing saja. Karena bersaing ini mau tidak mau dipaksa melihat standar luar," kata Zein, saat focus group discussion Menyoal Kurikulum 2013 di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (14/12/2012).

Menurutnya, terlalu banyak intensitas pemerintah dan masyarakat membandingkan kemudian mengadopsi metode pendidikan dari luar membuat masalah yang sebenarnya terjadi di dalam pendidikan Indonesia sendiri tidak terselesaikan dengan tuntas.

"Bahkan jadi cenderung terabaikan. Tiap negara itu tidak sama. Boleh saja mengadopsi tapi harus tetap dilihat masalah utama di negara sendiri ini apa. Lihat dulu ke dalam," ujar Zein.

Ia memberi contoh bahwa Indonesia memiliki banyak sekolah pertanian baik dari jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya negara yang dikenal dengan negara agraris ini tidak mampu mengembangkan sektor pertanian dengan baik.

"Bahkan bahan pokok kita sebagian besar masih diimpor. Ini karena terus melihat ke luar. Sehingga potensi dan ciri khas yang dapat dikembangkan dalam pendidikan jadi terabaikan," tandasnya.
Editor :

Caroline Damanik

Selengkapnya >>>

Rabu, 05 Desember 2012

Nusariadi, S.P//PKBM AZ-ZAHRA (paud Bakti Bunda)
Kesehatan anak merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua, setiap orangtua harus memperhatikan benar-benar dengan keadaan yang terjadi terhadap anak setiap saat, karena apabila lengah dan lalai sedikit saja maka bisa berpengaruh secara fatal pada anak.
Guru memang menjadi salah satu pihak yang bertangggung jawab dalam menjaga kesehatan anak, tapi yang paling bertanggung jawab adalah orang tua, karena anak belajar dari keteladanan dan kebiasaaan, gaya hidup orang tua yang tentunya sangat mempengaruhi. Tanpa sadar banyak hal yang dapat dipengaruhi oleh orang tua terhadap kesehatan anak seperti merokok sangat membahayakan kesehatan anak. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat 22 persen anak yang orang tuannya merokok mengidap penyakit asma dan pernafasan (Murray dkk, 2004 dalam Santrock, 2007). Selain itu, asap rokok juga menyebabkan anak kekurangan vitamin C (Staruss, 2001 dalam Santrock, 2007).

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kelompok Bermain BAKTI BUNDA TANJUNGPINANG juga tidak ketinggalan dan terus melakukan  upaya-upaya untuk melakukan Deteksi Daya Tumbuh Kembang Anak (DDTK) yang bekerjasama dengan PUSKESMAS terdekat. Hal demikian adalah untuk melakukan upaya Deteksi Dini terhadap pertumbuhan pada anak-anak Didik PAUD/Kelompok Bermain Bakti Bunda Tanjungpinang dan juga mengarahkan kepada orang tua terhadap perkembangan anak baik secara fisik maupun psikologi anak.
Terdeteksinya pertumbuhan dan perkembangan serta gejala-gelaja yang terjadi pada anak sedari dini merupkan hal yang jauh lebih penting dilakukan dari pada melakukan pengobatan ataupun hal-hal lainya setelah segala sesuatu terjadi pada putra-putri kita semua.
Editor : Nusariadi, S.P

Selengkapnya >>>

Minggu, 25 November 2012

Keluarga, Kunci Sukses Tumbuh Kembang Anak

JAKARTA, KOMPAS.com - Sadarkah bahwa peran orangtua dan dukungan keluarga merupakan hal penting yang mempengaruhi tumbuh kembang dan suksesnya pendidikan seorang anak? Untuk itu, orangtua dan keluarga sebaiknya tidak tinggal diam dengan anak-anak dan proses pendidikan yang dijalaninya.

Wakil Kepala Sekolah Sekolah Kembang Lestia Primayanti mengatakan, pendidikan tidak akan berjalan baik tanpa adanya dukungan dari keluarga. Untuk itu, program Math and Science Fair yang digelar selalu melibatkan orangtua dan keluarga.

"Dengan ini, kami berusaha melibatkan keluarga sebagai bagian dari lingkungan belajar anak. Karena dari sekolah saja kan tidak cukup," kata Tia saat dijumpai di Sekolah Kembang, Kemang, Jakarta, Sabtu (24/11/2012).

Dari persiapan eksperimen hingga saat pameran, orangtua dan keluarga terus terlibat dan bekerja sama bersama para murid. Hal ini tampak saat pameran berlangsung. orangtua atau kakak dari siswa juga ikut mendampingi dan menjawab pertanyaan seputar percobaan yang dilakukan.

"Itu kenapa kami pilih saat akhir pekan, karena keluarga juga dapat menghabiskan waktu bersama," ungkap Tia.

Komarawati, nenek dari Zavi, siswa kelas tiga Sekolah Kembang menyambut baik acara tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini cukup baik karena anak-anak tak segan berkonsultasi dan keluarga juga tak berusaha menggurui agar kerja sama yang terjalin tetap baik.

"Yang ada jadi saling bantu membantu. Mereka punya ide. orangtua menyediakan fasilitas dan membantu lancarnya proyek anak-anak ini," ungkap Komarawati.

Ia juga mengapresiasi ide untuk melibatkan orangtua dan keluarga dalam menyelesaikan sebuah tugas sekolah siswa. Sebab, anak-anak ini sudah akrab dengan internet dan berbagai fasilitas yang ada untuk mencari tahu informasi agar tugas sekolahnya rampung.

"Anak-anak ini akrab sekali dengan teknologi. Kadang pinteran anaknya daripada orangtuanya. Dengan kegiatan seperti ini, orangtua jadi ikut mengawasi kegiatan anak selama berinternet. Karena jika dibiarkan bisa salah langkah juga," tandasnya.
 
Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Selengkapnya >>>

Rabu, 21 November 2012

PAUD Bakal Dipusatkan di Masjid

JAKARTA, KOMPAS.com - Mulai tahun ajaran 2013/2014, program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akan diselenggarakan di masjid-masjid Indonesia. Kerjasama ini disepakati pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI bersama dengan Dewan Masjid Indonesia di gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (20/11/2012).

Pemanfaatan masjid sebagai tempat pelayanan PAUD ini menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, sangat efektif melihat sarana dan prasarana di tempat ibadah menunjang pendidikan karakter terutama pendidikan agama.

"Kalau PAUD dilaksanakan di masjid-masjid, urusan sikap sudah terbentuk disana, sebab masa kecil di masjid itu indah sekali. Pelajaran agama-nya live. Mereka bisa mendapatkan langsung pendidikan itu dari lingkungan masjid dan sekitarnya," ucap Nuh.

Dia menambahkan, nantinya akan ada alat-alat permainan edukasi, yang bisa merangsang pengembangan pendidikan mereka.

"Akan ada sarana pendukung yang dananya bersumber dari partisipasi Mendikbud, dan sebagiannya lagi dari DMI, karena kita sharing, berbagi," tambahnya.

Untuk itu, Mendikbud mengharapkan kerjasama ini akan mampu mendorong pengembangan partisipasi publik dalam penyelenggaraan PAUD di lingkungan masjid. Sehingga kekuatan pendidikan tidak semata-mata ada di tangan pemerintah, tetapi juga detak nadinya ada di dalam masyarakat.

"Kita bersama-sama disini, kalau kesadaran publik sudah muncul, maka proses pendidikan kita akan mudah," katanya.

Nuh juga meyakini, pendidikan masjid dan PAUD sejalan dengan penataan kurikulum yang sedang berlangsung saat ini, yaitu mengembangkan atttitude, skill, dan sekaligus knowledge.
Editor :
Caroline Damanik

Selengkapnya >>>

Senin, 19 November 2012

Merangsang Kecintaan Anak pada Alam Lewat Buku

JAKARTA, KOMPAS.com - Meningkatkan minat baca sekaligus memperkenalkan lingkungan hidup akan lebih mudah bila dimulai dengan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku terlebih dahulu. Penanggung Jawab Pekan Buku Dyah Ayu Pitaloka mengatakan, dengan menggelar pameran buku anak-anak, siswa bisa belajar mencintai lingkungan.

Kecintaan pada buku dan lingkungan dikembangkan pula melalui pesta kostum karakter dari buku-buku Indonesia. Anak-anak diajak untuk menggali kekayaan isi buku sambil bermain dengan kostum karakter-karakter yang ada di dalamnya, mulai dari Wiro Sableng, Jaka Tarub, sampai Malin Kundang.

Buku anak yang mengandung pesan moral untuk mencintai lingkungan sekitar dan mengangkat wawasan kekayaan alam, akan memberi masukan yang baik soal penanaman karakter anak.

"Buku bacaan menarik seperti buku cerita anak yang membahas binatang, tanaman dan pemandangan alam, tersirat ada pesan bahwa mereka harus melindunginya, terlibat, dan interaksi dengan bumi. Kegiatan tur edukasi tadi misalnya, membuat anak-anak mau bergerak, membaca buku, menghafal lagu, dan mereka menanam pohon," katanya kepada Kompas.com usai mengikuti kegiatan tur, Kamis (8/11/2012) siang.

Menurut Dyah, pengetahuan yang diperoleh anak dari buku diperdalam melalui rangkaian kegiatan Tur Edukasi Bumiku Lestari. Tur yang digawangi oleh penyanyi Oppie Andaresta ini kaya akan pesan-pesan yang disampaikan melalui lagu, musik dan kegiatan langsung, seperti daur ulang. Anak-anak berkebutuhan khusus di SD Global Mandiri juga dilibatkan untuk bernyanyi.

"Dalam seminggu, mereka sudah hafal lagunya. Selain dari membaca buku Bumiku Lestari dari WWF, mereka juga setiap harinya mendengar Radio Top Primary, radio sekolah ini. Jadi semakin sering membaca dan mendengar, anak-anak bisa melakukan itu," ucapnya.

Para siswa kelas I-VI juga diajak untuk melakukan aksi menanam pohon. Ada 12 pohon yang ditanam pada hari itu oleh para siswa yang mewakili masing-masing kelas. Setelah itu, para siswa kelas IV, V dan VI melakukan kegiatan daur ulang dari kertas koran menjadi paper bag, membuat pigura dari kardus bekas, serta tempat pensil dari botol bekas.

Selanjutnya para siswa juga diajak menonton film tentang hewan yang hampir langka dan butuh dilindungi bersama. Film orangutan dari Kalimantan membuat anak-anak sadar bahwa ada satawa di muka bumi yang harus dilindungi dari ancaman kepunahan.

Selengkapnya >>>

Senin, 05 November 2012

Membuka Universitas untuk Anak-anak

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengetahui banyak hal itu sangat menyenangkan. Apalagi membahas ilmu pengetahuan yang selalu menarik dan menggelitik rasa ingin tahu yang biasanya dimiliki anak-anak. Tidak salah jika sejak dini, anak-anak pun sudah mulai diperkenalkan dengan kehidupan kampus. Ya, kampus, bukan sekolah lagi, sebab dari sana anak-anak dapat memantapkan cita-citanya.

Seperti yang terjadi di ruang perkuliahan mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat. Jika biasanya para mahasiswa ini yang duduk menerima materi kualiah di kampusnya, kali ini justru para siswa sekolah dasar (SD) dan sederajat yang duduk manis menerima materi dari para dosen dan guru besar di kampus tersebut.

Peristiwa langka dan unik tersebut terjadi dalam acara Kinderuniversitat yang diadakan oleh Unpad, DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst), dan Kedutaan Besar Federal Jerman. Kinderuniversitat yang kurang lebih bermakna Universitas Anak-anak ini merupakan salah satu produk inovatif pendidikan dari Jerman. Disini, para dosen Unpad yang notabene merupakan alumni dari universitas asal Jerman mengajarkan materi mereka kepada para siswa SD.

Menurut perwakilan DAAD Jutta Kunze, Universitas Anak-anak tersebut akan memberikan pengalaman mengenai ilmu dan cita-cita, serta mengenal kehidupan sebuah kampus.

“Kinderuniversitat itu diadakan untuk memberikan informasi pada anak-anak apa itu ilmu, dan kemudian memberi pengalaman di bidang ilmu tersebut, serta memberikan pengetahuan mengenai suasana di sebuah kampus, apa yang dilakukan mahasiswa,” jelas Jutta seperti dilansir kompas.com melalui laman resmi Unpad, Sabtu lalu.

Jutta menyebutkan, ada sekitar 50 Universitas di seluruh dunia yang juga telah menyelenggarakan program ini. Tetapi, kampus Unpad sendiri merupakan universitas pertama di Indonesia yang menyelenggarakan program di 2012 dan sudah menggelarnya sebanyak dua kali. Acara tersebut pun dilangsungkan di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, Sabtu (3/11/2012) kemarin. Kuliah pertama ini pun diikuti lebih dari 150 siswa Sekolah Dasar.

Wakil Rektor III Unpad Setiawan yang berkesempatan memberikan kuliah pertama mengenai “Apa Sih Universitas itu?” ternyata mampu
Menarik perhatian siswa, sebab ia mempergunakan materi yang sederhana, bahasa yang mudah dicerna, serta tampilan materi visual yang menarik.

“Kalau kalian ingin jadi dokter, ingin jadi guru yang baik, maka kalian memerlukan sekolah sampai tingkat yang tinggi yang disebut universitas,” ujarnya dalam perkuliahan tersebut.

Dosen yang juga merupakan alumni dari Jerman ini mengaku selain dalam rangka kerja sama dengan mitra kerja sama Unpad, kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian yang dilakukan oleh Unpad untuk masyarakat, terutama dalam membina para generasi muda agar memilki visi jauh kedepan.

“Dampak dari kegiatan ini diharapkan anak-anak yang mengikuti akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan bisa memotivasi mereka agar lebih maju,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Phil. N. Rinaju Purnomowulan, menyampaikan Kinderuniversitat ini akan berlangsung hingga 15 Desember mendatang dengan kegiatan perkuliahan yang juga digelar di beberapa fakultas yang ada di Unpad. Para mahasiswa cilik itu nantinya akan mendapatkan kegiatan perkuliahan di Fakultas Pertanian, Fakultas MIPA, Fakultas Peternakan, Fakultas Kedokteran, serta Fakultas Ilmu Budaya.

Rinaju berharap, melalui acara ini, pengetahuan dari kampus dapat membuat anak-anak menjadi lebih cerdas serta lebih termotivasi untuk mencari dan menggali ilmu pengetahuan. Pengalaman yang terjadi pada anak-anak juga menjadi salah satu hal yang mesti didukung guna membentuk kepribadian mereka.

“Pada akhirnya yang diharapkan nanti, tentu terbentuk kepribadian unggul pada anak-anak tadi,” ucapnya.
Editor :
Caroline Damanik

Selengkapnya >>>